Newest Post

Archive for Agustus 2014

Holla~ Konnichiwa! Ini pertama kalinya aku mengepost karya ku di blog ku sendiri. Hehehe..
Semoga suka ya :)


Genre : Romance
_________________________________________________________________________




                “Ternyata menyenangkan karena kini aku berada di langit. Tempat dimana aku bisa melihat semua yang ada di dunia. Ya, semuanya. Terutama kamu… Aku bisa melihatmu setiap detik, menit, jam….”


Welcome To Facebook
Log In..
Loading…  SUCCESS
Hello Asuna Yuuki

                Asuna Yuuki adalah nama character ku di dunia Roleplay. Sekaligus nama akun Facebook-ku juga. Setiap aku log in, aku selalu mengecek message. Dan ternyata benar saja! 1 message dari akun Facebook Rei Kitagawa. Ku buka message-nya dan aku langsung senyum-senyum malu.
“Hello Dear ♡ Good Morning :* Jangan lupa sarapan ya”
                Rei Kitagawa adalah pacar ku. Yap. Kami mulai saling kenal di dunia Facebook ini. Dia berada di Tokyo Sedangkan aku di Hokkaido. Siapa sih nama aslinya? Yaa… Rei Kitagawa itu nama asli dia keleess… Oh, nama asli ku? Aku Minami Minegishi. Sudah 2 tahun lamanya kami LDR. Walaupun belum pernah ketemuan, aku udah sangat percaya sama dia kalau dia itu cowok yang baik.
“Yeah Dear ♡ You too yaa :*”


 
10 April 2028

“Yo Minami!” aku menoleh seorang cewek yag memanggil ku barusan.
“Oh Hai! Takamina! Dari mana aja lu?”
“Seperti biasa.. Dari perpus” Takahashi Minami atau Takamina langsung duduk di sebelah ku dan memesan Pop Ice rasa Cokelat.
“Eh Takamina..”
“Ng? Nani??” Tanya Takamina sambil meminum Pop Ice-nya.
“Ubah deh style rambut lu. Masa diiket setengah mulu?? Bosen gue ngeliatnya tau!”
“Yee… Elu mah gitu sama sahabat lu sendiri. Tega banget..” Kata Takamina dengan ekspresi menyedihkan (maybe).
“Ya setidaknya elu ganti kek stylenya. Twintail kek, ponytail kek. Biar gue kagak bosen ngeliat elu”
“Eh. Hari Rabu kemarin gue gerai nih rambut! Apa lu?!” Takamina berkacak pinggang. Wahh nih anak…
“Yaelah.. Itu karna elu habis keramas! Siangnya elu iket setengah lagi. Sama aja HOMKOM! Alias BOHONG deh!” Takamina hanya bias cengar cengir. Skakmat lu, Takamina! Hahaha
“Miichan!! Takamina!!! BRUKK!”
                 Seorang cewek dengan rambut digerai menabrak meja yang tepat di depan ku. Nih anak rambut pirang kenapa sih? Gak sakit apa tuh perut?
“Lucy Heartfilia? Ada apa nih?” Tanya ku penasaran.
“Ee..ettoo.. Perut lu gak sakit?” Tanya Takamina. Aku hanya bisa menggeleng kepala.
“Bantu gue guys!!!! Huwaaaa!!!” Lucy pun menangis.
“Ada apa sih, Lucy???”
“Guys.. Bantu gue ngerjain PR Fisika!! Sumpah susah banget!!!” 
GUBRAKK! Aku dan Takamina terjatuh dari kursi. Ya Ampun nih anak!!
“Elu ya! Gue kira ada masalah lebih serius kayak kemarin elu kena semprot sama ketua OSIS! Rupanya gara-gara PR doing!” Aku bener-bener lagi emosi saat itu!
“Iya nih Lucy. Apa gak ada masalah lain apa ya? Ekspresi lu berlebihan!” Semprot Takamina.
“Tapi setelah jam istirahat ini maple Fisika di kelas gue!!”
“Ya udah. Sini mana PR-nya?”


12 April 2028

“Mama..! Miichan pulang” Seorang perempuan paruh baya yang menurut aku sangat super ini datang dengan wajah yang penuh dengan……. Tepung?
“Mama bikin kue lagi?”
“Iya. Mama belum boleh menyerah!” Kata Mama dengan semangat 48. Hahahaha
“Ya ampun Mama. Gak usah deh. Tuh muka mama udah belepotan. Tuh jadi jelek kan Mama” Kata ku sambil mengeluarkan selembar tisu putih dan membersihkan pipi kanan Mama.
“Kamu gak mau Mama jago bikin kue?”
“Bukan gitu, Ma. Nanti kuenya meledak gimana?” Canda ku.
“Hahaha.. Kamu ini! Dah sana mandi! Mama mau bertarung di dapur!” Mama pun kembali masuk ke dapur.
Hahahaha.. Ada-ada aja nih Mama


Pukul 19:45
“Lalu x sama dengan 8p – 2a. Oke! Selesai!”
                Tiba-tiba terdengar lagu Canon Rock Style. Oh that’s my handphone! Aku ambil HP ku dan melihat siapa yang menelpon ku. 

PRIVATE NUMBER

Siapa sih yang ganggu waktu belajar ku?! “HALLO!” Kata ku dengan nada yang kurang enak didengar.
“Selamat Malam Minami sayang” Terdengar suara cowok di sebrang sana dengan nada yang lembut. AKu kaget!
“Rei! Ya Ampun!! Sorry aku pikir orang iseng. Maaf ya tadi aku nadanya gak enak gitu..” Kata ku dengan nada bersalah
“Hahaha gak pa pa kok. Lagi apa nih, Minami?”
“Yaaa baru aja selesai belajar” Kata ku bohong. “Rei sendiri? Lagi apa?”
“Lagi tiduran aja sih hahaha oh iya aku udah ketrima di perusahaan (sensor)!” Arigato Kami-sama! Akhirnya Rei kembali kerja!
“Waahh!! Selamat ya Sayang udah bisa kerja lagi!!”
“Iya Sayang. Doa’in aja ya biar aku bias cepat-cepat ketemu kamu, Minami”
“Gak usah buru-buru. Santai aja ya” Setelah itu hening sejenak.
“Hmm.. Sayang..” Terdengar suara Rei kembali.
“Iya Rei? Ada apa?”
“Aku cinta kamu, Minami” Aku terharu dan hampir menangis.
“Iya Rei. Aku juga. Sabar ya. Pasti kita bisa jalan bareng kok”
“Iya. Aku akan bekerja keras! Ya sudah sana kamu tidur ya. Oyasuminasai Minami. Muach”
“Bye bye Rei”


Pukul 23:35
              
  Aku sudah selesai dengan tugas sekolah ku. Ku beresin semua peralatan tulis yang ada di meja belajar dan aku mulai keluar dari kamar dengan jalan mengendap-ngendap supaya mama dan papa tidak bangun. Ketika aku melewati dapur, “Eh minum dulu ah” aku pun singgah sebentar ke dapur. Aku mengeluarkan sebotol jus orange dari kulkas dam ku tuangin ke dalam gelas kaca mungil yang kusukai. Tetapi setelah itu… aku memegang kepala ku..
Kepala ku… kenapa kepala ku??!!
Sakit yang luar biasa. Sebelumnya aku pernah sakit kepala hanya saja tidak sesakit ini. Tanpa sadar aku menabrak meja dapur dan… PRAANG!! gelas mungil itu jatuh. Langsung saja lampu dapur hidup. AKu tidak tau siapa yang menghidupkannya.
“Miichan! Ada apa kamu, nak??!” Aku merasakan hangatnya pelukan Mama.
“Ma… Sakit…. Kepala…” Kata ku dengan lirih sambil menggenggam tangan Mama kuat-kuat.
“Pa!! Papa!!!! Minami pa!!!” Teriak Mama sambil menangis.
“Mama jangan.. mena…ngis..” Seketika pandangan ku menjadi hitam.
“Minami! MINAMI!”


14 April 2028
               
 Mata ku mulai terbuka. Pertama kali yang kurasakan adalah bau obat dan bunyi tit… tit.. dan tit.
“M..Ma..ma” Kata ku lirih.
Mama langsung berdiri di samping kanan ku. “Miichan! Kamu udah sadar, nak? Apa kepala mu masih sakit?” Terlihat jelas dari mata mama yang bengkak. Mama pasti menangis selama aku gak sadarkan diri.
“Mama habis nangis? Jangan nangis lagi ya, Ma. Mama kan udah dewasa. Udah gede”
“Papa dimana, Ma?” Tiba-tiba terdengar suara pintu yang ditutup.
“Gimana, Pa? Apa aku sakit?” Tanyaku penasaran.
“Tidak. Kamu tidak sakit apa-apa, Miichan. Kamu hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup” Kata Papa.
“Syukurlah. Hanya pusing biasa”
Tok Tok Tok!
“Halo Minami” 2 kepala wanita muncul dari balik pintu.
“Takamina! Lucy!
                Aku tidak menyadari. Dari sini lah aku memulai berjalan di atas awan.


17 April 2028
                
                Hari ini aku resmi bebas dari rumah sakit!!!!Uh yeeaah!!!(Rock Style). Dan cukup panjang juga ceramahnya si pak Dokter. Harus makan seperti ini, gak boleh makanan seperti itu, minumnya harus ini dan ini, dan katanya lagi aku harus mandi air bunga melati! Gila tuh dokter! Dikira aku Suzana apa?! Lagipula kan hanya penyakit pusing biasa! Lebay banget sih pak Dokter! [SKIP]
                Kini aku sudah berada di depan rumah.
“Miichan, turun yuk” Ajak Mama.
“Iya, Ma” AKu pun dituntun sama Mama turun dari mobil Avanza dari hasil jerih payah Papa dan menuju pintu rumah. Sedangkan Papa mengeluarkan koper ku dari bagasi mobil.
                Aku memegang ganggang pintu yang berwarna emas itu. Entah kenapa ada perasaan aneh di dada ku. Ketika aku membuka pintunya, ada seorang cowok berpakaian casual simple duduk membelakangi ku di sofa. Siapa dia?
“Ng.. Ma, itu siapa?” Bisikku di telinga Mama.
“Hmm,, siapa yaa??” Goda Mama misterius.
“Hehh Mama! Aku serius nih!!” Langsung saja cowok yang rambutnya keren kayak landak berdiri dan…. ASTAGA!! GAK MUNGKIN!
“Hai Minami. Selamat datang kembali” Aku masih kaget dan sekaligus senang!
“REI!” Aku berlari ke dalam pelukan Rei. “Rei, Aitakatta” Tak terasa air mata mengalir di pipi ku.
“Minami..”. Pertama kalinya aku merasakan hangatnya pelukannya Rei. Pertama kalinya dia membelai rambut ku. Dan yang paling pertama kalinya adalah pada akhirnya kami bertemu. Ya. Selama 2 tahun ini kami hanya berkomunikasi hanya lewat Facebook, SMS, dan Skype.
“Aku sudah menepati janji ku, kan?” Aku hanya tersenyum malu mendengarnya. Terima kasih, Tuhan. Ini lah Adam-ku sesungguhnya.


20 April 2028

“Mama! Miichan pulang!” Aku habis shopping dengan Takamina dan Lucy.
“Mama? Papa?” Aku bingung. Apa rumahnya lagi kosong? Tapi pintunya tadi gak dikunci?
                Lalu, aku mencari Mama dan Papa di dapur, garasi, kamar mandi dan teras belakang tetapi hasilnya nihil. Oh iya, ada 1 tempat yang memang mewajibkan mereka disana. Kamar Mama dan Papa.
                Aku mengendap-ngendap mendekati kamar Mama dan Papa. Ah iya! Ini suara Mama dan Papa!
“Pa. Bagaimana caranya kita menjelaskan semuanya, Pa?”. Itu suara Mama! Lagi bahas apa sih?. Ku dekatkan telinga ku ke daun pintu.
“Papa juga bingung ma. Untungnya Miichan masih stadium 1 saat ini”. Eh? Aku.. Stadium 1? Jangan.. Aku hanya pusing biasa! Jangan lanjutkan Pa! Ma!
“Mama gak menyangka Miichan……”
                Aku tidak tau apa yang Mama bicarakan setelah itu. Tiba-tiba saja pendengarannya jadi kurang jelas dan penglihatanku jadi semakin buram. Pandangan ku mulai menggelap.


21 September 2028
                Kamu mau tau aku lagi dimana? Di Tropical Land! Tentunya aku pergi bersama Rei Kitagawa♡.  Sungguh menyenangkan! Oh iya. Sejak pertemuan ku dengan Rei beberapa bulan yang lalu, Rei katanya dipindah tugasnya olehsi Bosnya di Hokkaido. Jadi, mulai saat itu tiap Rei libur dengan pekerjaannya, kami selalu pergi kencan.
“Kyaaaaaaaaaa!!!” Hmm,, saat itu aku lagi naik kereta yang gak penutup atasnya dan jalan cepet banget! Naik turun jd mual! Itu apa namanya ya?
“Kamu gak pa pa, Minami?” Tanya Rei dengan ekspresi cemas-nya.
“I.iya. Gak pa pa kok” Jawab ku dan berusaha untuk tersenyum semanis mungkin.
                Setelah itu masih banyak permainan yang kami naiki. Bom Bom Car, Komedi Putar, ShootGun dan masih banyak lagi. Moment yang gak pernah ku lupakan dan selalu ku kenang. Selama 2 tahun kami memendam perasaan kangen dan selalu bermimpi jalan berdua. Hanya berdua. Dan kini sudah terwujud! Terakhir kami menaiki Kincir Angin.
“Silahkan masuk” Kata seorang lelaki yang rada kumuh memakai topi sambil merobek karcis kami berdua.
                Aku dan Rei pun masuk. Hanya kami berdua di dalam sangkar burung itu. Sunyi. Hening. Kami berdua hanya terdiam. Belum ada yang berani Berbicara. 2 menit. 3 menit….
“Minami.. “ Lumayan kaget juga aku ketika Rei memanggil ku.
“I..iya Rei?”
                Rei langsung berlutut di depan ku. Aku bingung. Rei menarik tangan kanan ku dan berkata..
“Minami, Aku sungguh mencintai mu” Lalu Rei mencium punggung tangan kanan ku.
“Aku juga mencintai mu, Rei” Perlahan-lahan aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh di bibirku. Basah, lembut dan hangat. Setelah cukup lama, aku memundurkan kepala ku.
“Rei..”
“Ya, Minami?” Hening sejenak.
“Aku boleh tidur bersama mu malam ini?”


Pukul 22:00

Pertama, ku rasakan getaran
Yang kerap goyahkan rasa
Serasa ada sentuhan baru
Sinari hari-hariku
Pertama, dirikupun tergoda
Kilaunya matamu
Runtuhkan angkuhnya dinding hati
Koyakkan batas sepi ku …. Dinginku
Pertama untukku dan tak kulupa
Diriku terjerat cintamu
Dan aku tak ingin lepas
Larutkan aku dalam nyata
Riak belaimu yang akan
Temani setiamu padaku
Kurasa…. Sentuhan… Getaran..
(Oh, yang pertama)
Dalam… Peluk… Cinta..


22 September 2028
                 
                  Aku terbangun. Aku merasakan ada yang berat pada badan ku ini.
“ng..Rei?” Rei masih tertidur di atas badan ku.
                Aku belai rambutnya dan punggungnya dengan penuh kasih sayang. Dan linangan air mata.
Maafkan aku, Rei. Aku harus meninggalkan mu secepat mungkin…


12 Oktober 2028
                 
                  Hari ini aku pergi shopping. Tidak bersama Takamina, Lucy ataupun Rei. Tetapi bersama Nicolas Maeda.
“Bagaimana, Mine-san?” Kami lagi duduk di Coco Shop.
“Dia tak jauh di belakang elu” Aku meminum Orange jus dan..
“Minami” Rei tepat di belakang Nicolas. Aku tidak kaget sama sekali.
“Rei…” Aku berdiri.
“Ini siapa? Kamu kok gak bilang sama aku lagi pergi?”
“Emangnya aku harus ngelapor ke kamu dulu? Kamu siapa aku?!” Kata ku dengan judes.
“Mi..Minami.. Aku Rei! Pacar kamu!”
“KITA PUTUS! Aku gak sudi lagi sama kamu!” Aku menarik tangan Nicolas dan buru-buru pergi ke parkiran mobil sebelum semua orang melihat kami.
“Minami! Tunggu!” Rei mengejar di belakang ku.
“Cepat Nicolas!” Nicolas langsung melajukan mobil balapnya. Aku melihat ke belakang. Rei terus mengikuti.
“Kita berhenti dimana Mine-san?”
“Apa? Berhenti? Gak usah deh! Lanjut aja sampai dia capek!”
“Gue yakin dia gak bakalan capek”
“Apa?” Tanya ku
“Elu pasti sudah tau kepribadiannya seperti apa. Kalau enggak, elu gak bakalan berhubungan lebih jauh lagi sama do’I”. Aku tidak menjawab.
“Lihat lah ke belakang. Kita udah berapa lama jalan-jalan keliling Hokkaido? Dia masih bertahan di belakang”
                Aku berpikir sejenak.
“Berhenti di jembatan arah 4 kota”
                Kelajuan mobil balap Nicolas makin menggila! Gak sampai 10 menit, kami sudah sampai di jembatan arah 4 kota. Dan tentu saja Rei juga ikut berhenti.
“Elu disini aja. Gue mau urus nih masalah sendirian”
“Elu yakin?”
“Gue yakin” Aku keluar dari mobil balap Nicolas. Dan Rei menghampiri.
“Minami. Aku cinta kamu. Tulus, Minami! Aku cinta kamu! Jangan tinggalin aku!”
“Maaf Rei. Aku.. sudah gak cinta lagi sama kamu. Aku sudah ada Nicolas” Kata dengan nada dingin.
“Gak! Bohong! Kamu bohong! Kamu masih cinta dengan ku kan?!” Rei mulai menangis.
“Gak! Gue gak bohong! Yang tau gue bohong atau enggak adalah gue! Bukan elu! Dan mulai sekarang, elu gak usah hadir di kehidupan gue lagi! Jangan ganggu gue lagi! Setelah aku ngomong begitu kasar dan kerasnya pada Rei, aku langsung masuk ke dalam mobil balap Nicolas.
“TIDAK! MINAMI!!!” Mobil Nicolas mulai melaju. Aku melihat Rei di kaca spion kiri mobil. Rei memukul-mukul tangannya di aspal jalan. Tangis ku pecah..

Maafkan aku, Rei. Lebih baik kamu kehilangan aku sekarang sebelum hati mu benar-benar tulus.


29 Mei  2029
                 
                 Sudah setengah tahun hal itu terjadi. Aku benar-benar tidak tega meninggalkan Rei. Namun, takdir berkehendak lain.
“Ayo Minami. Pegangan yang kuat. Pelan-pelan saja ya”
                Aku sedang melakukan kegiatan terapi. Dari kemarin aku susah untuk berjalan. Hanya bisa berdiri saja. Pendengaran ku juga semakin tidak jelas. Kepala ku semakin sakit dan berat.


02 Juni 2029

“Minami!!! Kami datang lagi!!” Teriak Takamina di ruang penginapan ku.
“Gue bawa Susu Beruang nih! Di minum yaa” Lucy membuka penutup botok susu berung tersebut dan memasukka selang di dalamnya.
“A..ri..gato..”


03 Agustus 2029
                Mama sedang membaca majalah terbaru minggu ini. Sedangkan Papa sedang ada urusan mendadak di kantornya. Aku hanya bisa terbaring lemah di kasur empuk berselimutkan kain putih ini. Dan memandang ke atas. Bosan? Ya. Aku bosan. Hanya berwarna putih yang ku lihat selama ini.
                Ku pejamkan mata ku sejenak. Lagi-lagi berwarna putih polos. Tetapi..
“Minami..” Seperti ada yang memanggil ku. Aku mencari dimana sumber suara itu.
“Minami. Kemarilah” Suara itu lagi.
“Dimana? Kamu dimana?” Teriak ku.
“Kemarilah” Tiba-tiba uluran tangan berwarna emas mengkilap muncul di hadapan ku. Lalu, ku raih tangan itu dan aku terbawa oleh tangan itu.
Tiiiiittttttt….. Suara yang sangat panjang.
“Mii-chan! Mii-chan! Dokter!! Tolong anak saya Dokter!!!”


04 Agustus 2029
               
                 Hujan. Bukan. Ini air mata dari sang bumi. Aku bisa melihat semuanya. Aku bisa merasakan semuanya. Mama. Papa. Teman-teman sekolah. Semuanya memakai pakaian hitam. Mama dan Lucy memakai kacamata hitam. Takamina dan Nicolas berada di bawah pohon pinus.
Mama. Papa. Rei. Dan semuanya. Aku saying kalian.


01 Juli 2045

“Nenek. Apa benar ini alamatnya?” Tanya seorang gadis cantik yang sangat mirip dengan seseorang.
“Iya. Benar kok alamatnya. Semalam bawahan kakek bilang, kok.”
“Hmm.. oke deh, Nek. Aku pergi dulu ya, Nek!!”
“Hati-hati di jalan ya”
                Gadis itu menaiki sepeda menuju alamat yang tertera di kertas yang dia pegang. 20 menit kemudia, gadis itu berhenti di depan gedung yang sangat tinggi.
“Wahh sugoii! Beliau sangat hebat!”
               

Pukul 11:00

“Permisi Kitagawa-san” seorang perempuan masuk ke dalam ruangan bosnya.
“Ya Suzuko? Ada apa?”
“Ada seseorang yang ingin sekali bertemu dengan anda”
“Hm? Siapa dia?”
“Saya tidak tau. Dia bilang ini rahasia supaya menjadi kado untuk anda, katanya” Jelas Suzuko
“Oke. Suruh dia masuk”
“Baik lah Kitagawa-san. Sumimasen” Suzuko keluar dari rungan Bosnya.


Pukul 11:05

“Lama banget sih!” Gerutu gadis itu di kursi tunggunya.
“Maaf anda sampai menunggu lama. Anda boleh masuk” Kata sang sekretaris.
“Arigato Gozaimasu, Suzuko-san” Kata gadis itu dengan ceria.
                Gadis itu mengetuk pintu ruang pemilik gedung tinggi itu.
“Masuk” terdengar suara seorang laki-laki dewasa di dalamnya.
“Konnichiwa!!” Kata Gadis itu ketika masuk ke dalam ruangan. Laki-laki itu memunggunginya.
Laki-laki berbalik badan dan.. “Ada urusan…apa..” Laki-laki itu terkejut melihat wajah gadis itu. Dia.. sangat mirip! Tidak mungkin!



“Hai Papa! Nama ku Minami Kitagawa!”


THE END




 Bagaimana? Saran dan Kritiknya ya :)
Masih pemula hehehe.
Oh iya. Untuk yang suka Roleplay Anime, aku ada grup di Facebook. Ini linknya >> https://www.facebook.com/groups/1486139468264399?refid=18&__tn__=C
Arigato Gozaimasu~~


Cerpen FanFiction : Minami Kitagawa

Sabtu, 02 Agustus 2014
Posted by Unknown

// Copyright © My Story[Novel & Cerpen] //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //